Peneliti     Keyword     Tahun

Kedokteran | Kedokteran Gigi | Hukum | Ekonomi & Bisnis | Farmasi | Kedokteran Hewan | I Sosial & I Politik | Fakultas Sains dan Teknologi | Kesehatan Masyarakat | Psikologi | Ilmu Budaya | Keperawatan | Perikanan dan Kelautan |

Penelitian

Prof.Dr.Indropo Agusni, dr.,Sp.KK (K)

indropo49@gmail.com

Fakultas Kedokteran / Departemen Kesehatan Kulit dan Kelamin

Tim Peneliti :

  1. Indropo Agusni --> Peneliti Utama
  2. Fery Hudowo Soedewo
  3. Prijono Satyabhakti
  4. Suhartono Taat Putra
  5. Thomas Kardjito

Tahun : 2001

Halaman Naskah : 7 halaman

Sumber Dana : mandiri

Besaran Dana : 0

SK. Penetapan : mandiri

Publikasi : Media Jurnal : Majalah Kedokteran Indonesia 2001; 51 / 11: 393 - 400

Kategori Penelitian : Kesehatan

Posting : 11-07-2012

Visitor : 2964


Download Article : PDF 7336 byte.


Title :

Kusta Subklinik di P. Mandangin, Madura (Bagian II). Suatu studi kohort perjalanan klinik dan laboratorik dari beberapa kasus Kusta Subklinik

Author : Prof.Dr.Indropo Agusni, dr.,Sp.KK (K)


Year : 2001

Abstact :

<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; punctuation-wrap:simple; text-autospace:none; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

Abstract (English) :

 

SUBCLINICAL  LEPROSY  IN  MANDANGIN  ISLAND  ( Part 2 )

A longitudinal study on the clinical and laboratory progression

of subclinical leprosy cases

 

Subclinical Leprosy (SL) is regarded to healthy individuals who showed a positive serological reaction to the specific M.leprae antigen, without any clinical sign. It could became a problem in Leprosy Control Programme due to its potency to progress towards manifest leprosy. A four years longitudinal study was conducted to a group of SL cases at the Mandangin island, Madura., to observe the clinical and laboratoric changes in relation with the progression towards the manifest leprosy. Fourty three SL

cases and 19 healthy people (sero-negative) as a control group were included in the study. The diagnosis of SL was based on the positive results of the Mycobacterium leprae particle agglutination (MLPA) test, from the sera of healthy individuals. Samples were examined clinically every six months to detect any clinical sign of leprosy until the end of the four years of study. The laboratory studies were performed in the beginning and at the and of the second year, to measure the MLPA titers and the level of IgM anti Phenolic Glycolipid-1 (anti PGL-1) antibody by indirect ELISA test. After two years evaluation , no clinical manifestation of leprosy was found among the SL group as well as the control group. Peripheral nerve enlargement at the predilection site of leprosy were found in 5 SL cases with high antibody titer. After two years evaluation, the level of anti PGL-1 antibodies were elevated significantly (p<0.05), both in the SL and control groups. The raised of antibody level to M.leprae antigen might explained the hypothesis “ ice-berg phenomena “ that observed in the endemic leprosy areas, where the exposures of M.leprae induce the sero-negative individuals to sero-positive, then gradually change to subclinical leprosy and finally become manifest leprosy. Further investigation was conducted only by routine clinical examination and focus on 9 SL cases which were suspected as manifest leprosy candidates because they have high IgM anti PGL-1 antibody titers and weak or negative Lepromin tests. At the end of the fourth years, one SL case that previously had a very high antibody titers (>0.2000OD) showed a typical clinical signs of manifest leprosy and he was diagnosed as a borderline lepromatous (BL) leprosy. It is concluded that SL can progress slowly into manifest leprosy and at least a four years longitudinal study is needed to observe these progressions.

 

<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; punctuation-wrap:simple; text-autospace:none; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

Key words      :           subclinical  -  serology  -  longitudinal study

 

 

 

Abstract (Indonesian) :

 

KUSTA SUBKLINIK DI PULAU MANDANGIN MADURA (Bagian ke II)

Suatu studi kohort perjalanan klinik dan laboratorik dari beberapa kasus Kusta Subklinik

Kusta Stadium Subklinik (KSS) adalah individu sehat tanpa adanya gejala klinik kusta, namun memberikan hasil positif pada uji serologi kusta dan dianggap berpotensi untuk berubah menjadi kusta manifes. Telah dilaksanakan suatu penelitian kohort selama 4 tahun untuk mengetahui  perjalanan klinik KSS menuju timbulnya manifestasi kusta, pada sekelompok kasus KSS di Pulau Mandangin, suatu daerah meso-endemik kusta di Selat Madura. Empat puluh tiga kasus KSS dan 19 orang sehat (sero-negatif) sebagai kelompok kontrol diikutkan dalam penelitian yang berlangsung dalam 2 tahap.  Penentuan KSS didasarkan pada hasil positif  uji Mycobacterium Leprae Particle Agglutination (MLPA) secara kualitatif. Pada 2 tahun pertama dilakukan pemantauan perubahan klinik dan laboratorik, sedangkan pada tahun ke 3 dan ke 4 hanya pemantauan klinik saja. Pemeriksaan klinik kusta dilakukan tiap 6 bulan sekali sampai akhir tahun ke empat, untuk mencari gejala penyakit kusta pada kulit dan saraf tepi.  Pemeriksaan laboratorik yang diikuti adalah uji MLPA dan titer antibodi IgM  anti Phenolic Glycolipid-1 (anti PGL-1) secara ELISA tak langsung, dilakukan  pada awal penelitian dan akhir tahun ke dua. Evaluasi secara klinis pada akhir tahun ke dua menunjukkan tidak ada seorangpun dari kelompok KSS maupun kontrol yang berubah menjadi kusta manifes. Namun ditemukan penebalan saraf tepi predileksi pada 5 kasus KSS dengan titer IgM anti PGL-1 yang tinggi (>0,0500 OD). Juga terjadi peningkatan bermakna (p<0.05) dari  titer antibodi yang diperiksa , baik pada kelompok KSS, kelompok kontrol, maupun secara keseluruhan setelah 2 tahun. Hal ini sesuai dengan hipotesis “fenomena gunung es” di daerah endemik kusta, dimana paparan M.leprae menyebabkan perubahan dari sero-negatif ke sero-positif (KSS) dan selanjutnya menjadi kusta manifes. Pemantauan selanjutnya pada tahun ke 3 dan ke 4 hanya dilakukan secara klinik saja,  dilakukan pada 9 kasus KSS dengan titer IgM anti PGL-1 >0,0500 OD dan hasil uji kulit Lepromin positif lemah atau negatif , yang dicurigai akan berubah menjadi kusta manifes.Evaluasi pada akhir tahun ke 4 menunjukkan adanya satu kasus KSS yang berubah menjadi kusta manifes, yang ditandai dengan titer antibodi sebelumnya sangat tinggi (>0,2000 OD) dan munculnya gejala klinik kusta yang sesuai dengan tipe Borderline Lepromatosa (BL).  Disimpulkan bahwa KSS memang berpotensi untuk menjadi kusta manifes, namun untuk mengikuti perubahan ini, diperlukan suatu studi kohort yang lama dengan masa pemantauan minimal 4 tahun.

 

Kata kunci : kusta - subklinik - serologi - studi kohort


Keyword : subclinical - serology - longitudinal study ,


List Article :

Related Article :

Visit Artikel : 22.985.437

Visit Website : 19.818.224

Google Scholar