Peneliti     Keyword     Tahun

Kedokteran | Kedokteran Gigi | Hukum | Ekonomi & Bisnis | Farmasi | Kedokteran Hewan | I Sosial & I Politik | Fakultas Sains dan Teknologi | Kesehatan Masyarakat | Psikologi | Ilmu Budaya | Keperawatan | Perikanan dan Kelautan |

Pengabdian Kepada Masyarakat

Prof. Dr. Agung Pranoto, dr.,MSc.Sp.PD-KEMD

agungpra@sby.centrin.net.id

Fakultas Kedokteran / Departemen Ilmu Penyakit Dalam

Tim Peneliti :

  1. Agung Pranoto --> Peneliti Utama

Tahun : 2009

Halaman Naskah : 17 halaman

Sumber Dana : Perkeni Cabang Banjarmasin

Besaran Dana : 1000000

SK. Penetapan :

Publikasi : Seminar : Endocrinology Update 2009. Workshop Nutrisi Perkeni Cabang Banjarmasin, 30 Januari 2009, Banjarmasin.

Kategori Penelitian : Kesehatan

Posting : 30-01-2012

Visitor : 4078


Download Article : PDF 3781 byte.


Title :

NUTRISI PARENTERAL PADA DIABETES MELLITUS

Author : Prof. Dr. Agung Pranoto, dr.,MSc.Sp.PD-KEMD


Year : 2009

Abstact :

NUTRISI PARENTERAL PADA  DIABETES MELLITUS

 

Agung Pranoto

Sub Bagian Endokrin & Metabolik, Bagian Penyakit Dalam

RSU Dr. Soetomo – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

 

Pendahuluan

 

            Perencanaan makan merupakan salah satu pilar pengelolaan Diabetes Mellitus (DM), dan komposisi yang ideal tentunya bervariasi sesuai dengan kebutuhan nutrisi masing-masing pasien. Perencanaan makan harus disesuaikan menurut kebiasaan masing-masing individu. Pada pasien-pasien yang dirawat dirumah sakit apabila tidak bisa mendapatkan asupan nutrisi secara oral maka harus segera dimulai dengan nutrisi enteral apabila tidak didapatkan adanya kontraindikasi. Saluran pencernaan tidak boleh diistirahatkan lebih dari 48 jam, oleh karena akan terjadi atrofi dari vili-vili usus yang selanjutnya akan menyebabkan translokasi kuman usus menuju keperedaran darah.

            Keunggulan diet tinggi karbohidrat telah lama diketahui bukan saja di negara kita, di negara barat pun demikian. Diet ini sudah menjadi diet standar di Indonesia, karena selain baik, juga karena sesuai dengan pola makan Indonesia. Sedangkan di negara barat, jumlah karbohidrat juga sudah dinaikkan tetapi tidak setinggi di Indonesia, yaitu hanya sekitar 55-60% saja, sedangkan lemak dan protein masing-masing 35% dan 15%. Dengan diet semacam ini ternyata kadar glukosa darah lebih mudah terkendali. Bertambahnya sekresi insulin atau meningkatnya sensitivitas insulin di jaringan perifer pada diet tinggi karbohidrat merupakan sebab mengapa kadar glukosa darah menjadi lebih mudah terkendali. Hal ini terutama terjadi pada DMTTI yang relatif tidak terlalu berat. Tetapi pada pasien DMTTI yang kadar glukosa darahnya sangat tinggi tidaklah sedemikian halnya. Pada keadaan demikian diet, tinggi karbohidrat ternyata meningkatkan kadar glukosa dan trigliserida darah lebih tinggi dibandingkan dengan yang mendapat karbohidrat rendah. Hal ini tentu saja menjadi persoalan yang hangat dibicarakan saat ini berhubung adanya kenyataan bahwa pada diabetes, risiko PJK 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan non diabetes. Tetapi kemudian muncul penelitian-penelitian lain yang mendapatkan bahwa diet tinggi karbohidrat pada keadaan apapun, baik pada yang kadar glukosa darahnya relatif tidak begitu tinggi atau pada keadaan dengan kadar glukosa darahnya sangat tinggi, menyebabkan kadar glukosa darahnya mudah terkendali dan kadar trigliserida tidak meningkat, asal disertai dengan peningkatan jumlah serat atau jumlah asam lemak tidak jenuh berikatan tunggal.

 


Keyword : Nutrisi Parenteral, Diabetes Mellitus,


List Article :

Related Article :

Visit Artikel : 22.976.278

Visit Website : 19.802.861

Google Scholar